Sri berusaha mendorong keluar tubuh saya. Mungkin karena pada dasarnya saya suami yang “baik”. Bokep Jepang Bakan menghisap lidah saya dengan rakus. Sesaat kemudian saya coba raih helai-helai rambutnya. Tetek gadis itu benar-benar sangat menggoda saya. Saya juga kaget dan takut. Saya bigung.“Si Nisa lengket banget tuh.”Akhirnya gadis bernama Sri itu kami ambil. Dia mengangguk. Dia kami peroleh di sebuah penampungan PRT, semacam sebuah yayasan. Tidak ada yang luar biasa. Secepat kilat saya bergeser tempat. Dik Nisa, besok bilangin ke mama, Papa nakal ya?” Sri berbicara pelan kepada Nisa.Saya tersenyum dan kembali memeluknya. Tangan saya merayap pelan ke atas sampai terentuh dinding yang sangat tebal. Persis seperti yang dilakukan Rosi, ipar saya di Taman KB malam itu. Istri saya memberi penjelasan tetang bagaimana Sri pintar merawat Nisa.Penjelasan ini tidak bisa diterima ibu. Saya menjadi iba. Istri saya berpesan kepada Sri supaya kalau malam Nisa tidur dengan dia. Susah bangun sekalipun anak menangis keras di sisi saya.




















