Kalau ditambah denganku, berarti ada delapan orang. “Okh, aah..!” Nyonya Wulandari melipat kedua kakinya di belakang pinggangku. Bokep Cina Sehigga tubuhnya tetap ramping, padat dan berisi. Tidak ada satupun yang melirik apa lagi memperhatikan lamaran dan ijazahku. Semula aku ragu dan hampir tidak percaya, karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya. Kebetulan sekali malam itu suami Nyonya Wulandari datang. Kurang..?”, tanyanya. Entah kenapa aku jadi merasa kasihan. Terasa perih, tapi juga sangat nikmat sekali. Karena bekal yang kubawa juga tinggal untuk makan beberapa hari lagi. Tapi aku belum ingin membawanya terbang ke surga dunia yang bergelimang kehangatan dan kenikmatan itu. Tidak ada yang tahu kalau aku punya cukup banyak simpanan di bank. Dan terus menekan pinggulku dengan kakinya hingga batang kebanggaanku melesak masuk dan terbenam ke dalam telaga hangat yang menjanjikan berjuta-juta kenikmnatan itu. Wanita yang kuperkirakan berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu memandangiku dengan kening berkerut.




















