Ray.. “Ahh.. Bokep Family ah.. “Nia.. Kamu harus lebih pengertian.” Kubanting stir ke kiri, memasuki jalan menuju ke luar kota yang ditumbuhi pepohonan, jalan itu terlihat sepi dan gelap. “Ray.. Anganku melayang, kujatuhkan tubuhku di tempat tidur, menunggu reaksi obat bekerja. “Nih..” ujarku saat mengecup bibirnya dan dadanya. Masa bodoh.“Ahh..” kudengar ia menjerit kecil saat kutekan-tekan ujung kemaluanku ke liang kemaluannya. Ah.. Dan mengomeliku karena tidak pernah menghubungiku lagi sejak perpisahanku dengan Enni. Dan mengomeliku karena tidak pernah menghubungiku lagi sejak perpisahanku dengan Enni. sure..” aku tergagap-gagap. mmhh.. “Hhh.. Waktu itu aku sedang sendiri. “Tentu.. “Ahh.. Hup. “Ma.. mmhh.. ahh.. Matanya terpejam. Ah, lumayan segar. “Ah.. “Masa?” tanyaku. Apakah ini saatnya perjalananku berhenti? ahh.. ahh.. “Ah.. Ray..” Peduli amat, lagi enak, nih. Akh, hahahahahahaha.. hh..” Dengan gerakan halus kutarik celana dalamnya menelusuri pahanya, betisnya, menikmati geliatnya di tindihanku. “Okay.. “Apa..?”
Susu-nya itu loh, menempel di ubun-ubunku, seandainya aku bisa berkata begitu saat itu.




















