Di sana sudah kusiapkan pil anti hamil yang kubeli di rumah obat sewaktu jam makan siang tadi dan uang tunai yang kutarik dari bank-ku tiga juta. Seperti sebelumnya kududukkan dia di mobil lalu kulumat mulutnya. Bokeb “Ermita kamu sudah siap pulang?”, dia kelihatan linglung kebingungan, barangkali heran kok dia ada di kamar yang asing. “Cukup Om”, katanya. Dia juga cerdas, hanya kemiskinan sajalah yang akan menyebabkan dia tak bisa berkembang. Diberikannya lidahnya yang segera kusambar dan kuhisap. Rupanya dia juga orgasme dengan hebat, walau pada saat-saat terakhir tadi aku tak peduli dia lagi. Aku bisa mendengar degupan dadanya yang cepat sekali.“Om”, desahnya. Perlahan kudekatkan wajahku ke wajahnya. Dia masuk dan aku memperhatikan bentuk tubuhnya. Hmm anggur manis Spanyol yang harum. Untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa perih kuganggu dia.“Kamu masih perawan sekarang Ermita?”, kugenjot dia dua kali lagi.“Ya tidak lagi dong”, dia mendesis dan mencubit lenganku. Mens saya terus saja tidak datang lagi sejak itu,” dia terisak-isak..“Bagaimana sekolah bisa tahu sedang










