Dia membentangkan kakinya terpisah dan dengan sepatunya yang bertumit tinggi dan kepalanya turun pada kakaknya, pantatnya bergoyang dengan sempurna. Aku bergeser dari pintu untuk memberinya ruang. Bokeb Dia bergerak semakin dekat kepadaku seiring kurasa tangan Erna mengelus lenganku kemudian menyeberang ke dadaku. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat dia berbelok di ujung gang itu.Kembali ke kenyataan, aku akan mengetuk pada pintu di mana pengantin wanita sedang bersiap-siap ketika mantan istriku Wati membuka pintu itu dan keluar. “Sebenarnya, kami sangat menginginkan Ayah,” kata Endang saat dia telah dengan sepenuhnya merapat.“Ini adalah khayalanku,” katanya sebelum dengan singkat mencicipi bibirku. “Apa pekerjaan mereka beres?”
“Beres?” tanya Erna. Melalui mataku yang hampir terpejam, aku bisa melihat Endang yang memainkan kelentitnya, menjilat sari buahnya.Endang tidak bisa membendungnya lagi, dan tak pasti berapa lama hisapan adiknya yang sempurna ini sanggup kuhadapi, sebab dia perintahkan padaku agar datang padanya. Ketika aku mendekati pintu, suara-suara yang gugup semakin terdengar lebih jelas.




















