Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Lalu asyik membuka tabloid. Bokep Colmek “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Kuusap sisa cream. Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.“Dik.., jangan dibuka lebar. Jari tangan mulai dingin. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. “Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung.




















