“Creet.. Bokepindo Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka. Lampu menyorot kuat ke arahku. Kalau aku tolak, aku merasa merendahkan atau menyepelekan apa yang namanya fans atau penggemar. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Fans atau penggemar, apalagi wartawan itu adalah jalur yang tidak boleh kulawan. Sebuah bantal mengganjal punggungku. Rasanya aku mau muntah. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini. srroott.. Ngerti..!†bentak Dian tersenyum sinis. Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku. “Baiklah.




















