Aku tidak begitu mempedulikan semua itu.Sentot begitu nama penjagaku selain pak Marto Tua yang hobinya tidur.“Tot, kamu segede ini pernah coli gak?”Kumulai percakapan ke arah yang tepat.“Apa itu mas?”Kuperkirakan awalnya awal duapuluhan atau mungkin belum sampai dua puluh. Lalu sebentar kemudian ada yang melongok. Bokepindo Kukocok perlahan, Sentot meringis kegelian atau perih. Pandanganku agak kabur lalu jelas lagi. Sore sudah berlalu dan keadaan cukup gelap di tempat itu. Pasti seru saja bisa melihat orang begini dan begitu pikirku. Sederhana sekali. Aku sendiri kini dalam kegelapan di bawah kehangatan air panas.Terdengar suara motor parkir. monggo mas…”Mereka berdua berdiri lalu berpakaian tanpa mengenakan celana dalam lagi. Sentot menunduk tak berani sama sekali melihat wajahku. Namun lebih banyak di dekat gunung berapi yang tidak lagi aktif.“Mas ini dari mana, mas?” Orang di sebelahku memulai percakapan.Ramah juga orang ini.




















