Aku menjilati dan menghisap toket dan pentilnya di sela-sela desah dan rintihnya yang sangat menikmati gelombang rangsanganku.Aku melepas pentilnya lalu bangkit berlutut mengangkangi betisnya, dan mulai menciumi pahanya. Karena hujan deras 2 jam, Jakarta dilanda kebiasaannya yang sekarang bukan tahunan tapi bisa 2 bulanan, yaitu genangan yang dalam dan ujung2nya macet.Karena genangan dan macet, jadilah aku parkir di jalan bebas gerakan didalem kota (tol kan jalan bebas hambatan, kalo macet ya bebas gerakan alias gak bisa bergerak sampe bisa parkir, gitu kok naik mulu tarifnya, (ngelantur lagi neh, kembali ke crita). Bokeb “Diprawanin?”
“Iya om”.“Sakit dong”. Kembali aku membelai2 rambutnya dan bibirnya kucium dengan mesra. toketnya bergoncang-goncang, keringatku bercampur keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuhnya. Tubuhnya yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan.Aku memeluk tubuhnya dan mengecup pipinya, membuatnya merasa semakin nyaman dan puas.“Mey om belum ngecret..! Dia menjilati tepi-tepinya. “Gak tau om, lagi cape kali dia, Mey-mey emut2 lama2 keras juga kok.




















