Sudahlah. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon.Ia kerja di sana? Bokep SMA Hitam. Ah bodoh. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.Darahku mendesir. “Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon.Ia kerja di sana? Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya. Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja.Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat.




















