Untung ada tissue yang tercecer, sehinggaada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabargembira dari wanita yang menunggu telepon. Bokep Namun, tibatibakeberanianku hilang. Ia menekannekan agak kuat. Kali ini lebihbertenaga dan aku memang benarbenar pegal,sehingga terbuai pijitannya.Telentang..! Pokoknya turun.Kiri Bang..!Aku lalu menuju salon. Sekarang sudahlebih lancar. Kami seperti tidak ingin membuang waktu,melepas pakaian masingmasing lalu memulaipergumulan.Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah bayayang tahu di mana titiktitik yang harus dituju. Ia malah melengos. Lalu dikocokkocok sebentar.Aku memegang teteknya. Mungkin sapu tangan ini sajasuatu kealpaan. Ia tidak membalas tapi lebih ramah.Tidak pasang wajah perangnya.Kayak kemarinlah.., ujarnya sambil mengangkat tabloidmenutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? meloncat begitu saja katakata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkotdengan seorang wanita, separuh baya lagi. Yes.., akhirnya. Aku menyesal mengutuk ibu ketikapergi.




















