Butuh berbagai menit menantikan, pintu kamarku yg terbukti tidak terkunci perlahan2 bergerak terbuka. “Mmm..mbak ikhlas kok den..salah mbak juga..telahlah gak papa..”jawabnya pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah jendela. Film Porno Ruangan kembali sunyi, mbak Juminten tertunduk, menggenggam kedua tanganya dengan gelisah. Mbak Juminten juga jauh dari jenis wanita yg aku inginkan. Dendamkah dirinya padaku, dapat saja tiba2 orang sekampung timbul mendatangiku dengan tuduhan cabul atas laporan darinya. ” Mbak temenin saya tidur..”Ucapanku serasa melayang diudara, jantungku berdegup kencang. Minggu pagi, keesokan harinya, mbak Juminten datang membawa anak perempuanya ke rumah. Aku kembali menolak dengan tegas, serta mbak juminten terus terisak.Aku memperhatikan wanita paruh baya ini dgn akurat, wajahnya semacam ktidak sedikitan wanita jawa pada umumnya,tdk cantik tp aku akui tetap terkesan lebih muda dari umurnya.










