Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada seorang wanita yang tampak kesal karena mobilnya mogok. “Apa saja. Link Bokep Betapa tidak, ternyata Nyonya Wulandari tidak pernah puas kalau hanya satu atau dua kali bertempur dalam semalam. Bi Minah kembali tersenyum. Aku berteduh di bawah pobon, sambil menghilangkan pegal-pegal di kaki.Setiap hari aku berjalan. Nyonya Wulandari malah tersenyum dan mencium pipi suaminya yang kendur dan berkeriput.Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku bergegas ke kamar. Tidurpun di mana saja. Kebetulan aku perlu pembantu laki-laki. Karena bekal yang kubawa juga tinggal untuk makan beberapa hari lagi. Aku masukan buku tabungan itu ke dalam tas ransel, diantara tumpukan pakaian. Terasa perih, tapi juga sangat nikmat sekali. Saat itu kedua mata Nyonya Wulandari terpejam. Tidak lagi menempati kamar yang khusus untuk pembantu.Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Nyonya pergi berbelanja.




















