Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Bokeb Napasnya tersengal. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium. Ia tersenyum ramah. Ia memulai pijitan. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Kuusap sisa cream. Lalu ia memijat lutut. Si Junior sudah mengeras. Membuatku tidak berani. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Ah segar. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Aku pun segan memulai cerita.Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Inilah kesempatan itu.




















